Wednesday, August 24, 2016

JALUR PURBA SEMERU & JEJAK MASA LALU Episode 6

Pandangannya menatap kosong kearah tengah danau.
Merinding bulu kudukku melihat pemandangan itu, sesaat aku terpaku ditempatku berdiri menatap sosok wanita berambut panjang sedang duduk dipohon tumbang dengan nyanyian menyayat hati.
Aku tak tahu nyanyian/tembang apa yang di senandungkan itu, syairnya sulit kupahami dan terasa asing ditelingaku. Tapi nadanya terasa ada kesedihan dibait lagu yang dinyanyikan itu.

Sejenak aku tersadar diwaktu yang mencekam itu, perlahan aku berbalik dan bergegas pergi kembali ke pondok brak seng dimana teman"ku tertidur nyenyak tanpa mengetahui kejadian itu.
Sekali lagi kupandang danau dan sepintas kulihat kabut tebal keputihan melayab ditengah2 menutupi air Ranu kumbolo.

Lamat2 suara senandung wanita itu lenyap menghilang digantikan suasana sunyi yang makin mencekam dan saat kuperhatikan air danau yang semula tenang itu tiba2 saja bergolak membuncah dahsyat membentuk gelembung2 dan gelombang pasang kepinggir danau. Diantara kabut putih tebal yang menyelimuti air ditengah danau itu telah muncul seekor makhluk seperti bentuk ular Naga yang besar meliuk-liuk dengan dua titik merah menyala seperti mata.

Aku sangat terkejut sekali ditempatku berdiri saat itu menyaksikan fenomena yang sungguh sangat dahsyat dan tak terduga ini. Kakiku rasanya terasa berat, dadaku berdegub keras, jantungku seakan berhenti berdetak dan terdiam mau lari rasanya kaki ini sulit kugerakkan.

Aku beringsud perlahan kebelakang mendekati pondok yang beberapa meter jauhnya dibelakangku, dan masuk kedalam. Bersamaan dengan itu angin bersiut kencang berhembus menerpa sampai menggoyangkan pondok brak seng, membawa udara dingin malam seraya menusuk tulang. Lamat2 kudengar suara desisan berat mendesah dibarengi deburan air danau yang terdengar sangat jelas ditelingaku.

Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi selanjutnya karena ketakutan yang amat sangat menyelimuti diriku saat itu, entah apalagi yang terjadi ditengah danau dan makhluk itu.....?? suara2 asing terus bersautan dan deburan air danau yang menggelegak membuih.
Sayup2 kudengar dentuman Jonggring Saloko nun jauh disana menggelegar, menambah suasana malam makin mencekam.
Lambat laun suara2 itu hilang sepi kembali dan sunyi, dinginnya udara malam yang menggigilkan tubuh, kurapatkan jaket tebal yang kupakai dengan perasaan masih takut dan gemetar.

Kubaringkan tubuhku rapat diantara teman2 yang tidur nyenyak dalam mimpi2 malam yang menegangkan.
Mata ini sulit kupejamkan karena fikiranku masih mengenang kejadian barusan yang sangat menakutkan.
Desau angin membawa udara dingin disela-sela pondok brak seng, sesekali masih terdengar sayup2 nun jauh disana dentuman Jonggring Saloko yang intens menggelegar. Hening, sunyi, sepi menyelimuti Ranu Kumbolo, serangga malam'pun tak kudengar berderik, hembusan angin lembut seakan membawa pesan mistery alam, tak terasa aku tertidur lagi karena rasa kantuk dan kelelahan.

Aku terbangun saat Matahari sudah terbit diufuk timur, dicelah lembah antara dua bukit dan punggungan yang membentang di seberang danau. Nampak induk burung Belibis berenang ketengah dengan di iringi anak2nya yang berbaris mengekor dibelakangnya.
Aku termenung ditempat dudukku mengingat kejadian semalam, sungguh ternyata dibalik keindahan Ranu Kumbolo menyimpan beribu mistery yang sulit dipahami.



-------> bersambung Episode VII

KILAS BALIK JALUR PURBA SEMERU & JEJAK MASA LALU Episode 5

Tiga hari sebelum keberangkatan kami rencana mendaki Semeru,
saya bilang dan sekaligus minta ijin ke ibu saya yang sekarang sudah (almarhum).
Betapa terkejut beliau mendengar niat saya yang mau mendaki Semeru, karena disamping waktu itu saya masih remaja dan baru berumur enam belas tahun dan belum pernah ke Semeru apalagi mendaki gunung....' beliau tahunya saya hanya ijin camping.
Dengan bijaksana dan tutur kata yang lembut, akhirnya beliau mengijinkan saya mendaki Semeru
dengan syarat harus kembali pulang dengan selamat apapun yang terjadi disana nanti saat mendaki Semeru.
Lalu beliau kemudian bercerita panjang lebar tentang Semeru dan hutannya. Gunung yang sangat berbahaya untuk didaki, hutannya Jalmo Moro Jalmo Mati, siapapun yang mencoba masuk ke hutan Semeru akan tersesat, hilang tidak bisa kembali dan pasti akan mati.
Tapi saya meyakinkan beliau bahwa saya akan baik2 saja bersama teman sekampung yang bernama Gondo Sukardi & Bonong Wuliyono (sampai saat ini masih sehat keadaannya).

Saya faham kenapa ibu saya waktu itu sangat kawatir disaat saya minta ijin mau mendaki ke Semeru....' karena beliau lahir dan dibesarkan di sebuah desa lereng Semeru meskipun cukup jauh jaraknya.
Legenda hutan Jalmo Moro Jalmo Mati, yang sudah tersiar turun temurun dikalangan penduduk lereng Semeru tidak asing lagi sampai saat ini. Karena itulah yang membuat beliau sangat mengkawatirkan saya nantinya bisa tersesat dan hilang bila masuk hutan Semeru.

Menjelang keberangkatan kami bertiga pamit, beliau dengan tatapan teduh mengusap kepala dan rambut sambil berucap "hati2 dijalan disaat kamu ditengah hutan harus waspada dan hati2 apapun yang terjadi disana kamu harus kembali pulang bersama teman2mu dengan selamat"
Masih terngiang ucapan beliau puluhan tahun lalu sampai saat ini ketika untuk pertama kalinya saya mendaki ke Semeru.....*)

Suasana tenang dan sunyi keindahan pemandangan alam Ranu Kumbolo sungguh eksotick, ditengah hutan rimba nan sunyi jauh dari perkampungan penduduk terhampar elok danau yang luas jernih, bening dan sejuk airnya dengan luas +- 750 m persegi.
Sesekali pernah kulihat sepasang Kidang & Harimau turun dari punggungan bukit untuk minum airnya. Menengok kebelakang sebelah kanan tanjakan bukit memanjang mengikuti alur contur punggungan terjal dan dibaliknya lembah membentang luas di bawahnya. Kearah itulah jalur pendakian yang sekarang terkenal dengan nama tanjakan cinta.

Masih di Ranu Kumbolo kami bertiga beristirahat dan bermalam disana, suasana sunyi, hening dan senyap, kemilau air bak cermin raksasa memantul karena cahaya bulan dan bintang dilangit terang. Gerombolan burung Belibis bertengger dipinggir danau, sesekali berenang berbaris dan beriringan ketengah menyibak lembut tenangnya air danau Ranu Kumbolo.
Malam semakin larut cahaya bulan kadang meredup karena tertutup awan, sunyi senyap suasana malam makin mencekam ditambah dinginnya udara malam serasa menusuk tembus ketulang tubuh menggigil dan lelah.
Kami terlelap dalam tidur di brakseng (bangunan pondok) saat itu berselimutkan malam yang semakin dingin mencekan.

Tengah malam dalam suasana sunyi dan udara dingin mencekam aku terjaga dalam tidur karena merasa terusik sayup2 mendengar suara senandung yang datangnya dari luar pondok. Karena rasa penasaran suara siapakah itu lamat2 kadang terdengar lirih, karena rasa penasaran dengan malas aku bangkit dan melongok keluar pondok dengan perasaan merinding dan rasa penasaran kuberanikan diri keluar dari pondok untuk mencari darimana datangnya senandung merdu itu, yang lamat2 suaranya terdengar memilukan ditelingaku.
Kuedarkan pandanganku disekitaran danau samar2 kulihat seorang wanita berambut panjang sedang duduk bertengger diatas pohon tumbang dipinggir danau memakai pakaian putih yang ujung kainnya sampai jatuh menyentuh air danau, kakinya menggantung dan sesekali diayun .....

-------> Bersambung Episode VI

JALUR PURBA SEMERU & JEJAK MASA LALU Episode 4

Senja temaram sore menjelang malam udara terasa makin dingin, kabut putih yang melayab basah dihalaman pondok yang mempunyai tiga kamar itu dan seperangkat meja kursi kayu bercat biru muda, sesekali kabut datang berpendar dan pudar.
Sepi sekali suasana desa Ranupani yang diselimuti kabut yang datangnya dari lereng2 bukit mengurung desa, hingga datangnya malam semakin sunyi.
Dingin udara malam serasa menusuk tulang karena baru pertama kali ini kami datang di desa Ranupani yang mempunyai ketinggian 2100 mdpl.
Kami bertiga masih mengobrol sambil nyeruput/minum kopi & susu yang sudah dingin.
Tak terasa malam semakin larut kami terlelap dalam tidur dikamar depan karena capai dan mengantuk sehabis menempuh perjalanan panjang dan sangat melelahkan, seharian berjalan dari desa Gubuk Klakah - Ranupani.

Pagi sebelum matahari terbit dari timur, kami sudah terbangun rasanya tidak bisa tidur nyenyak semalam karena dinginnya udara pagi dini hari terasa makin menusuk tulang.
Memasak air itulah yang pertama kami lakukan untuk membuat kopi dan teh sekedar mengurangi rasa dingin, dengan peralatan kompor lipat & bahan bakar parafin yang kami bawa pada waktu itu.
Setelah sarapan pagi dan berbenah packing kembali, pagi itu sekitar jam tujuh mulailah perjalanan kami lanjutkan kembali meninggalkan Ranupani. Kami tempuh melewati jalur satu2nya Gunung Ayag-ayag, jalur yang nyaris tek terbaca karena saking lebatnya semak belukar dan rimbunnya pepohonan.

Menjelang tengah hari di bulan Juni 1976 dari ketinggian diatas bukit Pangonantjah, kami melihat hamparan lembah dengan rumput hijau kekuningan dan diujung sana nampak sebagian danau dengan airnya yang tenang dan jernih kemilau karena pantulan sinar matahari.

Dari ketinggian bukit itu sesaat kami bertiga terpana memandang keberadaan danau ditengah hutan yang sunyi dikelilingi bukit2 dan punggungan membentang ditengah hutan Semeru.
Kami menuruni bukit Pangonantjah, sesekali merosot karena tanahnya licin dan lembab lalu melintasi dataran rumput sabana yang menguning, sampailah kami di Ranu Kumbolo.

Siang itu sangat sunyi, terasa damai dihati kami masing2 menatap danau dengan airnya yang sejuk, tenang dan jernih. Sekelompok habitat burung Belibis satu2nya penghuni nampak sedang berenang berjejer ketengah danau, kadang kepinggir dan kembali lagi ketengah danau mengikuti induknya kemana ia berenang pergi.
Seonggok batu besar dipinggir danau, yang waktu itu belum kuketahui menjadi tumpuan aku duduk dan bertengger diatasnya untuk menikmati pemandangan alam Ranu Kumbolo yang sepi, sunyi dan asri.

Lima bulan kemudian aku datang kembali untuk mendaki puncak Mahameru yang kedua kali, dan tanpa sengaja batu yang selalu kududuki teronggok dipinggir danau untuk menikmati pemandangan alam Ranu kumbolo, setelah kubersihkan dan kukorek tanah/lumut yang mengering melekat menutupi batu, ternyata sebuah Prasasti bertuliskan huruf Palawa jawi kuno.

Antara senang, heran dan takjub melihat batu Prasasti tersebut, tak kusangka batu yang selalu kududuki itu sebuah Prasasti kuno ratusan tahun lalu ternyata sudah ada orang yang datang ke Ranu Kumbolo dan mengukir batu Prasasti itu sebagai tetenger danau dan hutan Semeru.
Itulah mungkin jalur Ayag-ayag merupakan jalur purba yang dilewati orang" dahulu untuk naik ke Mahameru.




(Data pemetaan jalur Ayag-ayag sampai ke puncak Mahameru tertera Batavia Th 1882 revised 1945 Edition I.AMS US.Army Map Servise Compiled in Th 1963 From Java & Madura 1:50.000 Sheets 54/XLIII-B Planimetric - Topografi)

Jadi sebelum pemetaan jalur tersebut jauh sebelumnya jalur itu ternyata sudah ada dan dilewati orang" kuno dahulu dan merupakan jalur purba.


----------> Episode V